"Selamat Datang" Silahkan Cari Yang Anda Butuhkan dan Jangan Lupa Meninggalkan Email Anda Atau Akun Lainnya
Tampilkan postingan dengan label Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2011

Laporan Tugas Besar Perhitungan RAB Pd Proyek Jalan, Mata Kuliah Estimasi Biaya Semester 4, Tek. Sipil



BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Estimasi biaya merupakan hal penting dalam dunia industri konstruksi. Ketidakakuratan dalam estimasi dapat memberikan efek negatif pada seluruh proses konstruksi dan semua pihak yang terlibat. ( Wahyu, Wuryanti.,Kolokium & Open House “Kajian Indeks Biaya Konstruksi Pekerjaan Beton Bertulang Dan Baja Untuk Konstruksi Bangunan Gedung”, Puslitbang Permukiman, Balitbang Departemen PU, Bandung, 2005).
Dalam tahap konstruksi dari suatu siklus hidup sebuah proyek, biaya merupakan faktor utama karena menyangkut modal yang harus ditanamkan dalam pelaksanaan oleh kontraktor. Konsultan perencana dan pemilik sebagai penyediaan dana untuk proyek juga sangat berkepentingan dengan faktor biaya tersebut. Pembiayaan suatu bangunan tidak terlepas dari pengaruh situasi ekonomi umum dan perilaku para peserta bisnis konstruksi. Dalam hal ini, pembengkakan biaya dapat identik dengan penyebab biaya konstruksi tinggi. (Kaming, Peter F. dkk, “Penyebab Biaya Tinggi Pada Industri Jasa Konstruksi Di Indonesia”, Jakarta, 2002).
Penyusunan anggaran proyek merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengelolaan proyek konstruksi. Rendah atau tingginya penawaran akan mempengaruhi terhadap proses awal proyek tepatnya pada saat tender. Sehingga diperlukan kecermatan dalam penyusunan anggaran proyek, yang di dalamnya membutuhkan pengalaman untuk mengestimasi nilai sebuah proyek. Untuk mendapatkan estimasi yang tidak asal jadi diperlukan instrumen untuk melakukan analisa. Instrumen yang umum dipakai di Indonesia adalah analisa BOW (Burgerlijke Open bare Werken). Namun demikian, yang menjadi permasalahan adalah ketika analisa tersebut digunakan, maka nilai proyek akan tinggi. Oleh karena itu, untuk menentukan estimasi proyek pada awal tender selain diperlukan analisa tersebut juga pengalaman dari kontraktor. (Hermawan, ”Analisa Indeks Koefisien Pada Estimasi Biaya Konstruksi”, Semarang, 2007)
Dalam menaksir atau menentukan nilai suatu proyek tidaklah mudah, kompleknya jenis pekerjaan serta penggunaan tenaga, bahan dan alat yang berbeda-beda menambah tingkat kompleksitas dalam penyusunan rencana anggaran biaya (RAB) dan time schedule suatu proyek. Penentuan komposisi tenaga, bahan dan alat pada suatu pekerjaan umumnya didapat dari pengalaman empiris. Di Indonesia para estimator sering menggunakan analisa BOW yang ditetapkan tanggal 28 Pebruari 1921 pada jaman pemerintah Belanda dan SK-SNI (Standar Nasional Indonesia) 2002 sebagai dasar perhitungannya. (Sulistyawan, Abriyani. dkk, “Perhitungan Rencana Anggaran Biaya Proyek Konstruksi Dengan Bahasa Pemrograman Visual Basic”, Universitas Diponegoro, 2007).
Dan SNI 2002 ini telah di revisi dan ditetapkan menjadi SNI 2007. Maka penelitian ini akan membandingkan penggunaan Analisa Biaya Konstruksi BOW dan SNI 2002 serta SNI 2007.

1.2       Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari Tugas besar ini adalah untuk mengembangkan suatu perangkat lunak sistem informasi yang mempermudah analisa dan perhitungan estimasi biaya konstruksi pada proyek bangunan jalan.
Manfaat setelah diselesaikannya Tugas Akhir ini adalah dihasilkan perangkat lunak yang mempermudah user dalam menganalisa dan menghitung estimasi biaya konstruksi pada proyek bangunan jalan.


1.3       Ruang Lingkup
Ruang lingkup atau batasan penelitian ini yaitu :
·  Bangunan yang akan diestimasi biayanya dibatasi hanya berupa bangunan
fisik.
·  Metode yang digunakan dalam melakukan estimasi biaya konstruksi adalah
Metode Biaya Satuan ( Unit Cost Method ).

1.4       Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan Tugas Akhir ini dijelaskan sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan
Menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
BAB II            Tinjauan Pustaka
Menjelaskan tentang teori-teori dasar yang berhubungan dengan pengerjaan Tugas Besar.
BAB III Isi
Menjelaskan tentang perhitungan volume galian timbunan, perhitungan PKA, perhitungan jam kerja, perhitungan Koefisien alat,jumlah alat & pekerja & material, perhitungan sewa alat, perhitungan analisa satuan pekerjaan, RAB, dan Rekap RAB.
BAB V Penutup
Mengambil kesimpulan dari Tugas Besar yang telah dilakukan dan menyebutkan saran-saran pengembangan lebih lanjut.



Proses Pembuatan Baja dan Paduannya




1.      Proses Pembuatan Baja
Baja merupakan salah satu bahan yang sangat banyak dipakai di seluruh dunia untuk keperluan kehidupan manusia, khususnya di dunia industri. Ditemukan buat pertama kali oleh orang Mesir lebih dari 4000 tahun yang lalu untuk perhiasan dan alat rumah tangga yang kemudian berkembang menjadi bahan berharga dan dimanfaatkan orang setiap hari saat ini.
      Untuk menjadikan baja, banyak proses yang dilakukan, sehingga membutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat dipakai dalam berbagai keperluan.

A. Pembuatan Besi Kasar
     Besi kasar adalah hasil pengolahan dari bijih besi dengan melalui beberapa proses. Proses awal adalah dengan mengurangi senyawa-senyawa dan zat-zat lain yang terkandung dalam bijih besi dengan tahap sebagai berikut :
·          Dibersihkan.
·          Dipecah-pecah dan digiling sampai menjadi halus, sehingga partikel besi dapat  dipisahkan dari bahan yang tidak diperlukan dengan menggunakan magnit.
·          Dibentuk menjadi “pellet” (bulatan-bulatan kecil) dengan diameter + 14 mm.

      Untuk memudahkan dalam pembentukan “pellet” maka ditambahkan tanah liat, sehingga dapat dirol menjadi bentuk bulat. Setelah proses awal dilakukan, maka bijih besi diproses pada dapur tinggi. Dapur tinggi mempunyai konstruksi yang cukup besar dengan ketinggian mencapai 100 meter. Dinding luar terbuat dari baja dan bagian dalam dilapisi batu tahan api yang mampu menahan temperatur tinggi.
     Pada bagian atas
dapur tinggi terdapat corong untuk memasukkan bahan baku, yaitu bijih besi, kokas dan batu kapur. Kokas adalah batu bara yang telah diproses (disuling kering) sehingga dapat menghasilkan panas yang tinggi. Batu kapur berfungsi untuk mengikat bahan-bahan yang tidak diperlukan.
      Proses pada
dapur tinggi adalah dengan meniupkan udara panas ke dalam dapur tinggi untuk membakar kokas dengan temperatur + 2000oC. Cairan besi dan terak akan turun ke dasar dapur tinggi secara perlahan-lahan dan selanjutnya dituang ke kereta khusus. Hasil ini disebut besi kasar, yang kemudian dapat diproses lebih lanjut menjadi baja.

B. Proses Pembuatan Baja
      Besi kasar dari hasil proses dapur tinggi, kemudian diproses lanjut untuk dijadikan berbagai jenis baja.
Ada beberapa proses yang dilakukan untuk merubah besi kasar menjadi baja :
1.       Dapur Baja Oksigen (Proses Bassemer)
      Pada dapur baja oksigen dilakukan proses lanjutan dari besi kasar menjadi baja, yakni dengan membuang sebagian besar karbon dan kotoran-kotoran (menghilangkan bahan-bahan yang tidak diperlukan) yang masih ada pada besi kasar. Ke dalam dapur dimasukkan besi bekas, kemudian baru besi kasar, tapi sebagian fabrik baja banyak yang langsung dari dapur tinggi, sehingga masih dalam keadaan cair langsung disalurkan ke dapur Oksigen.
      Kemudian, udara (oksigen) yang didinginkan dengan air dan kecepatan tinggi ditiupkan ke cairan logam. Ini akan bereaksi dengan cepat antara karbon dan kotoran-kotoran lain yang akan membentuk terak yang mengapung pada permukaan cairan. Dapur dimiringkan, maka cairan logam akan keluar melalui saluran yang kemudian ditampung dalam kereta-kereta tuang.
     Untuk mendapatkan spesifikasi baja tertentu, maka ditambahkan campuran lain sebagai bahan paduan. Hasil penuangan ini dapat langsung dilanjutkan dengan proses pengerolan untuk mendapatkan bentuk/profil yang diinginkan.


2.      Dapur Baja Terbuka (Siemens Martin)
      Sama halnya dengan Dapur Baja Oksigen, maka dapur baja terbuka (Siemens Martin) juga merupakan dapur yang digunakan untuk memproses besi kasar menjadi baja. Dapur ini dapat menampung baja cair lebih dari 100 ton dengan proses mencapai temperatur + 1600oC; wadah besar serta berdinding yang sangat kuat dan landai.
     Proses pembuatan dengan dapur ini adalah proses oksidasi kotoran yang terdapat pada bijih besi sehingga menjadi terak yang mengapung pada permukaan baja cair. Oksigen langsung disalurkan kedalam cairan logam melalui tutup atas. Apabila selesai tiap proses, maka tutup atas dibuka dan cairan baja disalurkan untuk proses selanjutnya untuk dijadikan bermacam-macam jenis baja.

3.      Dapur Baja Listrik
     Panas yang dibutuhkan untuk pencairan baja adalah berasal arus listrik yang disalurkan dengan tiga buah elektroda karbon dan dimasukkan/diturunkan mendekati dasar dapur. Penggunaan arus listrik untuk pemanasan tidak akan mempengaruhi atau mengkontaminasi cairan logam, sehingga proses dengan dapur baja listrik merupakan salah satu proses yang terbaik untuk menghasilkan baja berkualitas tinggi dan baja tahan karat (stainless steel).
     Dalam proses pembuatan, bahan-bahan yang dimasukkan adalah bahan-bahan yang benar-benar diperlukan dan besi bekas. Setelah bahan-bahan dimasukkan, maka elektroda-elektroda listrik akan memanaskan bahan dengan panas yang sangat tinggi (+ 7000oC), sehingga besi bekas dan bahan-bahan lain yang dimasukkan dengan cepat dapat mencair.
     Adapun campuran-campuran lain (misalnya untuk membuat baja tahan karat) dimasukkan setelah bahan-bahan menjadi cair dan siap untuk dituang.



C. Proses Pembentukan dan Bentuk-bentuk Produk Baja
       Pembentukan baja adalah tahap lanjutan dari proses pengolahan baja dengan berbagai jenis dapur baja.
Baja yang telah cair dan ditambah dengan campuran lain (sesuai dengan kebutuhan/sifat-sifat baja yang diinginkan) dituang ke dalam cetakan yang berlubang dan didinginkan sehingga menjadi padat. Batangan baja yang masih panas dan berwarna merah dikeluarkan dari cetakan untuk disimpan sementara dalam dapur bentuk kotak serta dijaga panasnya dengan temperatur 1100oC - 1300oC menggunakan bahan bakar gas atau minyak. Penyimpanan tersebut adalah untuk meratakan suhu sebelum dilakukan proses pembentukan atau pengerolan.

Proses pembentukan produk baja dilakukan dengan beberapa tahapan:
1. Proses Pengerolan Awal
      Proses ini adalah dengan cara melewatkan baja batangan diantara rol-rol yang berputar sehingga baja batangan tersebut menjadi lebih tipis dan memanjang.
Proses pengerolan awal ini dimaksudkan agar struktur logam (baja) menjadi merata, lebih kuat dan liat, disamping membentuk sesuai ukuran yang diinginkan, seperti pelat tebal (bloom), batangan (billet) atau pelat (slab).

2. Proses Pengerolan Lanjut
     Proses ini adalah untuk merubah bentuk dasar pelat tebal, batangan menjadi bentuk lembaran, besi konstruksi (profil), kanal ataupun rel.
Ada tiga jenis pengerolan lanjut :
• Pengerolan bentuk struktur/konstruksi
• Pengerolan bentuk besi beton, strip dan profil
• Pengerolan bentuk (pelat).


a. Bentuk Struktur
     Pengerolan bentuk struktur/profiil adalah lanjutan pengerjaan dari pelat lembaran tebal (hasil pengerolan awal) yang kemudian secara paksa melewati beberapa tingkat pengerolan untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang diperlukan.

b. Bentuk Strip, Besi Beton dan Profil
     Proses pembentukan ini tidak dilakukan langsung dari pelat tebal, tetapi harus dibentuk dulu menjadi batangan, kemudian dirol secara terus menerus dengan beberapa tingkatan rol dalam satu arah. Adapun hasil pengerolan adalah berbagai bentuk, yaitu : penampang bulat, bujur sangkar, segi-6, strip atau siku dan lain-lain sebagainya sesuai dengan disain rolnya.

c. Bentuk Lembaran (Pelat)
     Pengerolan bentuk pelat akan menghasilkan baja lembaran tipis dengan cara memanaskan terlebih dahulu baja batangan kemudian didorong untuk melewati beberapa tingkat rol sampai ukuran yang diinginkan tercapai.

Sumber : http://www.gudangmateri.com/2011/01/proses-pembentukan-baja.html



2.      Paduan Baja
Baja paduan adalah baja paduan dengan berbagai elemen dalam jumlah total antara 1,0% dan 50% berat untuk meningkatkan sifat mekanik. Baja Paduan dipecah menjadi dua kelompok:
1.       Baja paduan rendah (low alloy steel)
Baja paduan rendah biasanya digunakan untuk mencapai hardenability lebih baik, yang pada gilirannya akan meningkatkan sifat mekanis lainnya. Mereka juga digunakan untuk meningkatkan ketahanan korosi dalam kondisi lingkungan tertentu. Dengan menengah ke tingkat karbon tinggi, baja paduan rendah sulit untuk las. Menurunkan kandungan karbon pada kisaran 0,10% menjadi 0,30%, bersama dengan beberapa pengurangan elemen paduan, meningkatkan weldability dan sifat mampu bentuk baja dengan tetap menjaga kekuatannya. Seperti logam digolongkan sebagai baja paduan rendah kekuatan tinggi.
Baja paduan rendah dikelompokan menjadi 3 yaitu:
a.        Baja Karbon Rendah (low carbon steel)
       Baja ini dengan komposisi karbon kurang dari 2%. Fasa dan struktur mikronya adalah ferrit dan perlit. Baja ini tidak bisa dikeraskan dengan cara perlakuan panas (martensit) hanya bisa dengan pengerjaan dingin. Sifat mekaniknya lunak, lemah dan memiliki keuletan dan ketangguhan yang baik. Serta mampu mesin (machinability) dan mampu las nya (weldability) baik.
b.       Baja Karbon Sedang ( medium carbon steel)
Baja Mil memiliki komposisi karbon antara 0,2%-0,5% C (berat). Dapat dikeraskan dengan perlakuan panas dengan cara memanaskan hingga fasa austenit dan setelah ditahan beberapa saat didinginkan dengan cepat ke dalam air atau sering disebut quenching untuk memperoleh fasa ang keras yaitu martensit. Baja ini terdiri dari baja karbon sedang biasa (plain) dan baja mampu keras. Kandungan karbon yang relatif tinggi itu dapat meningkatkan kekerasannya. Namun tidak cocok untuk di las, dengan kata lain mampu las nya rendah. Dengan penambahan unsur lain seperti Cr, Ni, dan Mo lebih meningkatkan mampu kerasnya. Baja ini lebih kuat dari baja karbon rendah dan cocok untuk komponen mesin, roda kereta api, roda gigi (gear), poros engkol (crankshaft) serta komponen struktur yang memerlukan kekuatan tinggi, ketahanan aus, dan tangguh.
c.       Baja Karbon Tinggi (high carbon steel)
Baja karbon tinggi memiliki komposisi antara 0,6- 1,4% C (berat). Kekerasan dan kekuatannya sangat tinggi, namun keuletannya kurang. baja ini cocok untuk baja perkakas, dies (cetakan), pegas, kawat kekuatan tinggi dan alat potong yang dapat dikeraskan dan ditemper dengan baik. Baja ini terdiri dari baja karbon tinggi biasa dan baja perkakas. Khusus untuk baja perkakas biasanya mengandung Cr, V, W, dan Mo. Dalam pemaduannya unsur-unsur tersebut bersenyawa dengan karbon menjadi senyawa yang sangat keras sehingga ketahanan aus sangat baik.

2.       Baja Paduan Tinggi (high alloy steel)
Baja paduan tinggi terdiri dari baja tahan karat atau disebut dengan stainless steel dan baja tahan panas. Baja ini memiliki ketahanan korosi yang baik, terutama pada kondisi atmosfer. Unsur utama yang meningkatkan korosi adalah Cr dengan komposisi paling sedikit 11%(berat). Ketahanan korosi dapat juga ditingkatkan dengan penambahan unsur Ni dan Mo. Baja tahan karat dibagi menjadi tiga kelas utama yaitu jenis martensitik, feritik, dan austenitik. jenis martensitik dapat dikeraskan dengan menghasilkan fasa martensit. baja tahan karat austenitik memiliki fasa y (austenit) FCC baik pada temperatur tinggi hingga temperatur kamar. Sedangkan jenis feritik terdiri dari fasa ferrit (a) BCC. Untuk jenis austenitik dan feritik dapat dikeraskan dengan pengerjaan dingin (cold working). Jenis Feritik dan Martensitik bersifat magnetis sedangkan jenis austenitik tidak magnetis.

Sumber : http://romzneverdie.wordpress.com/metallurgy/klasifikasi-logam-dan-paduannya/#comment-27

Jumat, 01 Juli 2011

Resume Manajemen Proyek, Tugas I




1.      Manajemen Proyek Konstruksi
1.1.  Pengertian Manajemen Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ada suatu proses yang mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan.
Menurut ( Bayu, 2010), manajemen Proyek konstruksi adalah kegiatan merencanakan,mengendalikan dan mengawasi berbagai sumber daya yang   terhimpun dalam suatu wadah(organisasi) yang bersifat sementara.untuk melakukan kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga bangunan terwujud dengan mutu, biaya, dan  dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
     Ruang lingkup Proyek meliputi:
1. Menentukan waktu proyek dimulai
2. Perencanaan lingkup proyek yang akan dikerjakan
3. Pendefinisian ruang lingkup proyek
4. verifikasi proyek serta kontrol atas perubahan yang mungkin terjadi saat proyek
    tersebut dimulai.
   
Contoh Proyek yang ada dilingkungan kita:
1.       Proyek konstruksi yaitu Hasilnya berupa pembangunan jembatan, gedung,      jalan raya.
2.      Proyek Industri Manufaktur Kegiatannya mulai dari merancang hingga terciptanya suatu produk baru.
3.      Proyek penelitian dan pembangunan: Melakukan penelitian dan pengembangan hingga terciptanya sebuah produk tertentu dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan suatu produk, pelayanan atau suatu metode tertentu.
4.      Proyek padat modal: Suatu proyek yang memerlukan modal yang besar. Misalnya :
Pembebasan tanah, pembelian dan pengadaan suatu barang, pembangunan suatu fasilitas produksi dsb.
5.       Proyek Infrastruktur: Penyediaan kebutuhan masyarakat luas dalam hal prasarana transportasi, waduk, pembangkit listrik, instalasi telekomunikasi dan penyediaan sumber air minum.

(http://bayuzu.blogspot.com/2010/09/pengertian-ruang-lingkup-manajemen.html).

v  Ciri-ciri proyek
  • Bertujuan menghasilkan lingkup (scope) tertentu berupa produk akhir ayau hasil kerja akhir.
  • Dalam proses mewujudkan lingkup diatas, ditentukan jumlah biaya, jadwal, serta kriteria mutu.
  • Bersifat sementara dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas.
  • Non rutin, tidak berulang-ulang. Macam dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung.

Hal-hal yang dapat menimbulkan proyek
  • Rencana Pemerintah
  • Permintaan Pasar
  • Dari dalam Perusahan yang bersangkutan
  • Dari kegiatan Penelitian dan Pengembangan
Sasaran proyek dan tiga kendala batasan yang harus dipenuhi, yaitu :
  • Besar Biaya (anggaran) yang dialokasikan.
  • Jadwal.
  • Mutu yang harus dipenuhi.

v  Macam-macam proyek dari segi pekerjaan
·         Proyek Engineering – Konstruksi
·         Proyek Engineering – Manufaktur
·         Proyek Penelitian dan Pengembangan
·         Proyek Pelayanan Manajemen
·         Proyek Kapital
·         Proyek Radio – Telekomunikasi
·         Proyek Konservasi Bio – Diversity
Tipe organisasi proyek
·         Fungsional
·         Produk dan Area
·         Matriks
Ciri organisasi proyek:
·         Arus horizontal disamping vertical
·         Penanggung jawab tunggal atas berlangsungnya proyek
·         Pendekatan sistem dalam perencanaan dan implementasi

Perbedaan Kegiatan Proyek dan Operasional Proyek :
Þ    Kegiatan Proyek :
·         Bercorak dinamis, non rutin
·         Siklus proyek relatif pendek
·         Intensitas kegiatan dalam periode siklus proyek berubah-ubah (naik-turun)
·         Kegiatan harus diselesaikan berdasarkan anggaran dan jadwal yang telah ditentukan
·         Terdiri dari macam-macam kegiatan yang memerlukan berbagai disiplin ilmu
·         Keperluan sumber daya berubah, baik macam maupun volumenya
Þ    Operasional :
·         Berulang-ulang, rutin
·         Berlangsung dalam jangka panjang
·         Intensitas kegiatan relatif sama
·         Batasan anggaran dan jadwal tidak setajam proyek
·         Macam kegiatan tidak terlalu banyak
·         Macam dan volume keperluan sumber daya relatif konstant.
Tiga hal yang berpengaruh besar berkaitan erat dengan konsep manajemen proyek:
  1. Manajemen Klasik atau Manajemen Fungsional
Manajemen Klasik menjelaskan tugas-tugas manajemen berdasarkan fungsinya, yaitu merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan.
  1. Pemikiran Sistem
Pemikiran yang memandang segala sesuatu dari wawasan totalitas.
  1. Pendekatan Contigency
Pendekatan yang erat hubungannya dengan situasi dan kondisi yang berarti bahwa tidak ada satupun pendekatan manajemen terbaik yang dapat dipakai untuk mengelola setiap macam kegiatan.



1.2. Jenis-jenis Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi dapat dibedakan menjadi dua jenis kelompok bangunan (Ervianto, 2005), yaitu :
a.     Bangunan gedung : gedung bertingkatm rumah, kantor, pabrik dan lain-lain
              Gambar Bangunan Gedung

Adapun ciri-ciri dari kelompok bangunan ini adalah :
¨      Proyek konstruksi menghasilkan tempat orang bekerja atau tinggal.
¨      Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang relatif tidak terlalu luas dan kondisi pondasi umumnya sudah diketahui.
¨      Dibutuhkan manajemen terutama untuk progressing pekerjaan.

b.         Bangunan sipil : jalan, jembatan, bendungan dan infrastruktur lainnya

              Gambar Bangunan Sipil
Ciri-ciri dari kelompok bangunan ini adalah :
¨      Proyek konstruksi dilaksanakan untuk mengendalikan alam agar berguna bagi kepentingan manusia.
¨      Pekerjaan dilaksanakan pada lokasi yang luas atau panjang dan kondisi pondasi sangat berbeda satu sama lain dalam suatu proyek.
¨      Manajemen dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan
Kedua kelompok bangunan tersebut sebenarnya saling tumpang tindih, tetapi pada umumnya kedua kelompok bangunan tersebut direncanakan dan dilaksanakan oleh disiplin ilmu perencana dan pelaksana yang berbeda.
1.3. Kegiatan Proyek Konstruksi
Tahapan kegiatan proyek secara umum, meliputi :
a.         Tahap studi kelayakan
Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menyakinkan pemilik proyek bahwa proyek konstruksi yang diusulkan layak untuk dilaksanakan, baik dari aspek perencanaan dan perancangan, aspek ekonomi (biaya dan sumber pendanaan), maupun aspek lingkunagnnya.
b.         Tahap penjelasan (briefing)
Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memungkinkan pemilik proyek menjelaskan fungsi proyek dan biaya yang diijinkan, sehingga konsultan perencana dapat secara tepat menafsirkan keinginan pemilik proyek dan membuat taksiran biaya yang diperlukan.
c.         Tahap perancangan (design)
Tahap ini adalah untuk melengkapi penjelasan proyek dan menentukan tata letak, rancangan, metode konstruksi dan taksiran biaya agar mendapatkan persetujuan dari pemilik proyek dan pihak berwenang terlibat, mempersiapkan informasi pelaksanaan yangg diperlukan, termasuk gambar dan spesifikasi serta untuk melengkapi semua dokumen tender.


d.        Tahap pengadaan/pelelangan (procurement / tender)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menunjuk kontraktor sebagai pelaksana atau sejumlah kontraktor sebagai sub-kontraktor yang akan melaksanakan konstruksi di lapangan.
e.         Tahap pelaksanaan (construction)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan biaya dan waktu yang telah disepakati serta dengan mutu yang telah disyaratkan.
f.          Tahap pemeliharaan dan persiapan penggunaan (maintenance & start-up)
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah selesai sesuai dengan dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimana mestinya. Selain itu pada tahap ini dibuat suatu catatan mengenai konstruksi petunjuk operasinya dan melatih staf dalam menggunakan fasilitas yang tersedia.

Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Proyek Konstruksi
Unsur/badan yang melaksanakan pekerjaan bangunan, antara lain :
a.         Pemberi tugas
Pemberi tugas dapat berupa perseorangan / badan hukum yaitu pihak yang menggunakan atau memerlukan suatu fasilitas / proyek sekaligus yang menanggung biaya proyek yang akan didirikan.
b.         Konsultan, meliputi :
Þ    Perencana, yaitu berupa perseorangan atau badan hukum yang mempergunakan keahliannya berdasarkan pemberi tugas, mengerjakan perancangan atau perencanaan.
Þ    Pengawas, yaitu berupa perseorangan atau badan usaha yang mempergunakan keahliannya atas dasar perintah / penunjukkan dari pemberi tugas untuk melakukan pengawasan pelaksaan pekerjaan di lapangan yang dilakukan oleh kontraktor.
Þ    Penasehat biaya ( quantity surveyor) adalah seseorang penasehat biaya konstruksi yang bekerja sama dengan pemilik (pemberi tugas). Pada umumnya penasehat biaya ditunjuk oleh arsitek atau engineer (ahli teknik).
Þ    Manajemen konstruksi (CM) adalah suatu organisasi yang bersifat multi disiplin yang bekerja untuk dan atas nama pemberi tugas atau pemilik bangunan dan harus mampu bekerja sama dengan konsultan perencana untuk mencapai hasil yang optimal dari suatu proyek yaitu mulai dari perancangan sampai dengan penyerahan dan pengoperasian proyek.
c.         Kontraktor
a.         Kontraktor
Merupakan perusahaan perorangan atau perkumpulan berbadan hukum yang bergerak dalam bidang pelaksanaan pekerjaan bengunan dan melaksanakan pekerjaan menurut biaya yang telah disepakati (sesuai kontrak) dengan memperhatikan semua persyaratan (aturan yang berlaku), misalnya RKS dan gambar kerja.

Organisasi Proyek Konstruksi
Pada dasarnya bentuk–bentuk organisasi proyek dapat dikelompokkan menjadi lima bentuk organisasi atau pendekatan manajemen, yaitu :
1.      Tradisional


 






Tradisional maksudnya hubungan tersebut merupakan hubungan yang sudah terjadi sejak dulu.


2.      Swakelola


 





Hubungan ini merupakan hubungan yang lekat dengan kekeluargaan. 

3.      Putar Kunci (Turn Key)


 









Dalam hubungan ini investor bertanggung jawab penuh atas proyek. Namun apabila bangunan selesai dibangun, bangunan diserahkan oleh investor kepada owner. 

4.      Proyek yang memisahkan kegiatan perencanaan dengan kegiatan pengawasan pelaksanaan proyek


 






5.      Proyek menggunakan manajer proyek


 





                                                                                                             



 





Ket :

 Ikatan Kontrak     
 Ikatan Fungsional 

1.      Rencana Kerja dan Rencana Lapangan
Tahap Kegiatan dalam Proyek Konstruksi ;
                   a.      Study Kelayakan
Dimana harus disertai AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan). Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menyakinkan pemilik proyek bahwa proyek konstruksi yang diusulkan layak untuk dilaksanakan, baik dari aspek perencanaan dan perancangan, aspek ekonomi (biaya dan sumber pendanaan), maupun aspek lingkungannya.
                  b.      Tahap Penjelasan
Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memungkinkan pemilik proyek menjelaskan fungsi proyek dan biaya yang diijinkan, sehingga konsultan perencana dapat secara tepat menafsirkan keinginan pemilik proyek dan membuat taksiran biaya yang diperlukan.
                   c.      Tahap Perancangan atau Desain
Tahap ini adalah untuk melengkapi penjelasan proyek dan menentukan tata letak, rancangan, metode konstruksi dan taksiran biaya agar mendapatkan persetujuan dari pemilik proyek dan pihak berwenang terlibat, mempersiapkan informasi pelaksanaan yangg diperlukan, termasuk gambar dan spesifikasi serta untuk melengkapi semua dokumen tender.
                  d.      Tahap Pelelangan atau Pengadaan
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menunjuk kontraktor sebagai pelaksana atau sejumlah kontraktor sebagai sub-kontraktor yang akan melaksanakan konstruksi di lapangan.
                   e.      Tahap Pelaksanaan
Tujuan dari tahap ini adalah untuk mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan biaya dan waktu yang telah disepakati serta dengan mutu yang telah disyaratkan.
                   f.      Tahan Pemeliharaan dan Persiapan penggunaan
Tujuan dari tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah selesai sesuai dengan dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimana mestinya. Selain itu pada tahap ini dibuat suatu catatan mengenai konstruksi petunjuk operasinya dan melatih staf dalam menggunakan fasilitas yang tersedia.

2.1. Perencanaan Proyek
Perencanaan merupakan bagian terpenting untuk mencapai keberhasilan proyek konstruksi. Karena itulah untuk mencapai tujuan, manajemen harus membuat langkah-langkah proaktif dalam melakukan perencanaan yang komprehensif agar sasaran dan tujuan dapat dicapai. Perencanaan dikatakan baik bila seluruh kegiatan yang ada di dalamnya dapat diimplementasikan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dengan tingkat penyimpanan minimal serta hasil akhir maksimal.
Secara umum definisi perencanaan adalah suatu tahapan dalam manajemen proyek yang mencoba meletakkan dasar tujuan dan sasaran sekaligus menyiapkan segala program teknis dan administrasi agar dapat diimplementasikan.
Tujuan perencanaan adalah melakukan usaha untuk memenuhi persyaratan spesifikasi proyek yang ditentukan dalam batasan biaya, mutu dan waktu ditambah dengan terjaminnya faktor keselamatan (safety).

1.2. Rencana Kerja
Rencana kerja adalah suatu pembagian waktu secara rinci yang disediakan untuk masing–masing bagian pekerjaan (dari pekerjaan permulaan hingga pekerjaan akhir).
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun rencana kerja :
¨      Keadaan lapangan lokasi proyek
Hal ini dilakukan untuk memperkirakan hambatan yang mungkin timbul selama pelaksanaan pekerjaan.



¨      Kemampuan tenaga kerja
Informasi detail tentang jenis dan macam kegiatan yang berguna untuk memperkirakan jumlah dan jenis tenaga kerja yang harus disediakan.
¨      Pengadaan material konstruksi
Harus diketahui dengan pasti macam, jenis, dan jumlah material yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. Pemilihan jenis material yang akan digunakan harus dilakukan di awal proyek, kemudian dipisahkan berdasarkan jenis material yang memerlukan waktu untuk pengadaan, misalnya material pabrikasi biasanya tidak dapat dibeli setiap saat, tetapi memerlukan sejumlah waktu untuk kegiatan proses produksi. Hal ini penting untuk membuat jadwal rencana pengadaan material konstruksi.
¨      Pengadaan alat pembangunan
Kegiatan yang memerlukan peralatan pendukung pembangunan harus dapat dideteksi secara jelas karena berkaitan dengan pengadaan peralatan. Jenis, kapasitas, kemampuan, dan kondisi peralatan harus disesuikan dengan kegiatannya.
¨      Gambar kerja
Selain gambar rencana, pelaksanaan proyek konstruksi juga memerlukan gambar kerja untuk bagian – bagian tertentu/khusus. Untuk itu, perlu dilakukan pendataan bagian – bagian yang memerlukan gambar kerja.
¨      Kontinuitas pelaksanaan pekerjaan
Dalam penyusunan rencana kerja faktor penting yang harus dijamin oleh pengelola proyek adalah kelangsungan dari susunan rencana kegiatan setiap item pekerjaan.




Manfaat dan kegunaan rencana kerja :
                     a.      Alat koordinasi bagi pimpinan
Dengan menggunakan rencana kerja, pimpinan pelaksanaan pembangunan dapat melakukan koordinasi semua kegiatan yang ada di lapangan.
                    b.      Sebagai pedoman kerja para pelaksana
Rencana kerja merupakan pedoman terutama dalam kaitannya dengan batas waktu yang telah ditetapkan untuk setiap item kegiatan.
                     c.      Sebagai penilaian kemajuan pekerjaan
Ketetapan waktu dari setiap item kegiatan di lapangan di pantau dari rencana pelaksanaan dengan realisasi pelaksaan di lapangan.
                    d.      Sebagai evaluasi pekerjaan
Variasi yang ditimbulkan dari perbandingan rencana dan realisasi dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan rencana selanjutnya.

2.3. Rencana Lapangan
Rencana lapangan adalah suatu perletakan bangunan–bangunan pembantu yang diperlukan sebagai sarana pendukung untuk pelaksanaan pekerjaan.
Tujuan pembuatan rencana lapangan adalah untuk mengatur letak bangunan–bangunan pembantu sedemikian rupa sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan efisien, lancar, aman dan sesuai rencana kerja yang disusun.
Jenis dan macam bangunan pembantu tergantung dari :
·         Besar kecilnya pekerjaan.
·         Waktu pelaksanaan pekerjaan.
·         Jenis/macam dan ukuran dari bangunan yang akan dilaksanakan.

Pada umumnya penyiapan lokasi pekerjaan mencakup :
                   a.      Penyelidikan lapangan
Tujuan dari site investigation adalah untuk menidentifikasi dan mencatat data yang diperlukan untuk kepentingan proses desain maupun proses konstruksi.
                  b.      Pertimbangan tata letak
Tata letak disuatu proyek sangat berpengaruh terhadap efisiensi selama proses konstruksi, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
·         Pertimbangan umum
·         Pertimbangan jalan masuk
·         Pertimbangan penyimpanan bahan
·         Pertimbangan akomodasi
·         Pertimbangan fasilitas sementara
·         Pertimbangan peralatan
·         Pagar lokasi
·         Kesehatan dan keselamatan kerja

1.      Keamanan lokasi proyek
Tujuan utama dari site security adalah:
·         Keamanan dari pencuri
·         Keamanan dari perampokan
·         Keamanan dari penyalahgunaan
2.      Penerangan lokasi proyek
Penerangan dibutuhkan jikaa hendak melanjutkan pekerjaan (lembur) pada malam hari atau jika sinar matahari tidak cukup terang sebagai pendukung untuk melakukan kegiatan. Penerangan yang cukup juga dapat mencegah penyalahgunaan pemanfaatan barang atau peralatan.
3.      Kantor proyek
Pemilihan bentuk serta material untuk keperluan kantor proyek ditentukan oleh kontraktor, dan tentunya sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak. Material yang sering digunakan terbuat dari kayu, mobil caravan atau lainnya. Kebutuhan ruang biasanya dipisahkan antara manajer proyek, ruang administrasi serta ruang untuk pekerja proyek.
Ukuran dari kantor proyek ini dapat diperkirakan berdasarkan asumsi bahwa kebutuhan ruang setiap satu orang sebesar 3,7 m2 dan 11,5 m2, kedua acuan tersebut harus dipenuhi.
4.      Penyimpanan material
Kegiatan penyimpanan material dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan karakteristik setiap jenis material, baik sifat fisik, ukuran fisik. Hal yang dapat digunakan sebagai pertimbangan antara lain :
·         Jenis material/komponen yang akan disimpan
·         Kebutuhan ruang yang diperlukan untuk penyimpanan
·         Alokasi ruang dalam tata letak lokasi proyek


Untuk lebih lengkap, silahkan download pada Link dibawah ini:

Baca Yang Lainnya dan Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Anda