"Selamat Datang" Silahkan Cari Yang Anda Butuhkan dan Jangan Lupa Meninggalkan Email Anda Atau Akun Lainnya

Kamis, 30 Juni 2011

Laporan Praktek Kerja Bengkel "Acuan dan Perancah II"


        Acuan berfungsi sebagai konstruksi yang diinginkan, Sedangkan Perancah berfungsi sebagai pembantu memperkuat bentuk konstruksi.
       Untuk info lebih lanjut, lihat saja dibawah ini:










BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Pada masa sekarang ini bangunan-bangunan yang dibangun baik gedung, jembatan maupun bangunan lainnya, mayoritas komponen bangunannya terbuat dari beton. Beton merupakan struktur utama pada suatu bangunan yang terdiri dari campuran semen, air, pasir, dan agregat kasar,  yang berfungsi untuk menopang beban yang terjadi. Pada awalnya beton merupakan bahan yang elastis, tetapi setelah umur tertentu akan mengeras dan mempunyai kekuatan tertentu pula, sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
            Beton merupakan bahan bangunan  yang hanya dapat menahan gaya tarik namun tidak dapat menahan gaya tekan. Untuk menghasilkan bangunan yang maksimal, beton tersebut haruslah dapat menahan gaya tarik dan tekan. Dalam perwujudan hal tersebut, maka beton perlu ditambahkan tulangan agar dapat menahan gaya tekan, sehingga beton dapat berfungsi dengan maksimal. Dengan ditambahkannya tulangan beton tersebut dinamakan Beton Bertulang.
            Untuk membentuk beton menjadi bentuk yang diinginkan diperlukan suatu alat bantu yang biasa dikenal dengan sebutan Acuan dan Perancah/Bekisting/ Form Work yang berupa cetakan, atau suatu konstruksi sementara dari suatu bangunan yang berfungsi untuk mendapatkan suatu konstruksi beton yang diinginkan sesuai dengan porsinnya sebagai bangunan pembantu. Acuan Perancah bersifat sementara yang harus kuat   dan kokoh, namun mudah dibongkar agar tidak menimbulkan kerusakan pada beton.
             Baik buruk dari pengerjaan acuan dan perancah dapat mempengaruhi hasil akhir dari mutu beton yang dikerjakan. Acuan yang kurang baik dapat menimbulkan kerugian seperti kehilangan material, perubahan dimensi beton, perubahan struktur bangunan, dan juga dapat mempengaruhi keselamatan pekerja. Dalam pelaksanaannya seorang ahli di bidang tersebut harus mempunyai keterampilan khusus dan mempunyai pengetahuan dasar yang cukup tentang acuan dan perancah.

1.2.  Definisi Acuan dan Perancah
Acuan dan perancah adalah suatu konstruksi yang bersifat sementara yang berupa mal / cetakan pada bagian kedua sisi atas dan bawah dari bentuk beton yang dikehendaki.
            Acuan berfungsi sebagai konstruksi yang diinginkan, Sedangkan Perancah berfungsi sebagai pembantu memperkuat bentuk konstruksi.

            Acuan dan perancah itu sendiri memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1.      Memberikan bentuk kepada konstruksi beton
2.      Untuk mendapatkan permukaan struktur yang diharapkan
3.      Menopang beton sebelum sampai kepada konstruksi yang cukup keras dan mampu memikul beban sendiri maupun beban luar
4.      Mencegah hilangnya air semen ( air pencampur ) pada saat pengecoran
5.      Sebagai isolasi panas pada beton.

1.3. Macam-macam Konstruksi
Dalam ilmu teknik sipil terdapat 3 macam jenis konstruksi, yaitu :
a.       konstruksi kayu
b.      konstruksi baja
c.       konstruksi beton bertulang

Masing-masing konstruksi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan:.
a)      Konstruksi kayu
ó Keuntungan :
-          Mudah dalam perawatan.
-          Tidak dapat menghantarkan listrik.
ó Kerugian :
-          Susah untuk dibentuk sesuai dengan keinginan.
-          Mudah lapuk atau di makan rayap.

b)      Konstruksi baja
ó Keuntungan :
-          Baja memiliki tingkat keutuhan yang lebih tinggi.

c)      Konstruksi beton
ó Keuntungan :
-          Mudah didalam pembuatan.

1.4. Syarat–syarat Umum Acuan dan Perancah
1.      Kuat
Didalam pekerjaan ini beban-beban beton yang berada pada bekisting dan beban lain yang dipikul oleh bekisting itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan suatu acuan perancah yang kuat untuk dapat memikul beban yang diterimanya.

Ø   Berat Sendiri (Beton)
Cetakan harus sanggup menahan berat beton yang di cetakan.
Ø   Berat Hidup
Cetakan harus sanggup menahan beban hidup, yaitu : baik orang yang sedang mengerjakan beton tersebut, Vibrator, dan adanya kemungkinan terjadinya suatu Gempa atau Retakan.

Pembebanan :
ü  Beban mati (DL)
·         Akibat beton
·         Akibat acuan
ü  Beban hidup (LL)
2.      Kaku
Kaku atau tidak bergerak sangat penting pada acuan dan perancah ini, karena apabila perancah tersebut tidak kaku atau dapat bergerak, maka hasil yang akan dicapai tidak maksimal karena bentuk yang ingin kita capai tidak sempurna.

3.      Mudah dibongkar
Acuan dan perancah harus mudah dibongkar karena acuan hanya bersifat sementara, dan  hal ini menyangkut efisiensi kerja, yaitu tidak merusak beton yang sudah jadi dan acuan perancahnya dapat digunakan berkali-kali.

4.      Ekonomis dan Efisien
Didalam pembuatan acuan dan perancah tidak perlu bahan yang terlalu bagus, namun jangan pula bahan yang sudah tidak layak pakai. Karena kita harus membuat acuan dan perancah sehemat mungkin dengan tidak mengurangi mutu dari bekisting dan didalam pembongkarannya acuan dapat digunakan kembali sehingga menghemat biaya.

5.      Rapi
Rapi dalam penyusunan sehingga bisa enak dilihat dengan kasat mata dan mudah dalam penyusunan dan pembongkaran.

6.      Rapat
Kerapatan suatu bekisting sangat mempengaruhi didalam proses pengecoran. Karena apabila bekisting yang kita pakai tidak rapat maka adukan yang kita pakai tadi akan keluar dan akan mengakibatkan mutu beton yang kurang bagus karena pasta semen keluar dari bekisting

7.      Bersih
Untuk mendapatkan hasil yang baik cetakan harus bersih apabila cetakan tidak bersih, maka dalam proses pengecoran kotoran mungkin akan naik dan masuk ke dalam adukan beton sehingga akan mengurangi mutu beton dan apabila kotoran tidak naik maka kotoran tersebut akan melekat pada bagian bawah beton sehingga sulit untuk dibersihkan..

1.5. Kerugian–kerugian Jika Acuan dan Perancah Kurang Baik
1.      Perubahan geometric
Perubahan ini mengakibatkan bentuk yang kita harapkan tidak sesuai dengan rencana, misalkan : suatu konstruksi yang menyiku menjadi tidak siku, akibatnya akan mengadakan perbaikan lagi atau misalkan perlu ditambahkan pekerjaan finishing lagi.
2.      Penurunan mutu beton
Seperti halnya terjadi kebocoran pada acuannya, hal ini akan mengakibatkan air yang diikuti semen tadi keluar sehingga mutu / kekuatan beton menjadi berkurang
3.      Terjadinya perubahan dimensi
Terjadinya perubahan ukuran dari dimensi yang kita rencanakan akibatnya jika terjadi perubahan ini maka akan memperbesar dan memperkecil volumenya. Sedangkan untuk melakukan perbaikan akan membutuhkan waktu dan biaya lagi, hal ini akan menghambat pekerjaan yang lainnya.
              
1.6. Bagian–bagian Acuan dan Perancah
a)      Bagian pada acuan
1.      Papan Cetakan
Dapat digunakan papan sebagai dinding acuan. Apabila digunakan papan maka penyambungan dapat dilakukan dalam arah melebar ataupun memanjang, perlu diiperhatikan dalam penyanbungan papan harus benar-benar rapat agar tidak ada air yang keluar.

2.      Klam Perangkai
Klam merupakan unsur acuan dan perancah yang mempunyai dua fungsi :
a)      Sebagai bahan penyambung papan acuan pada arah memanjang maupun melebar
b)      Sebagai bahan pengaku acuan pada arah melebar.
klam dapat terbuat dari papan seperti papan acuan, namun perlu dipotong potong sesuai ukuran yang dikehendaki atau cukup menggunakan papan sisa yang masih cukup panjang dengan lebar papan yang disambung.

b)      Bagian pada perancah
1.      Tiang acuan/Tiang Penyangga
Tiang acuan biasanya digunakan kasau, kayu gelam, ataupun berbahan besi. Umumnya jumlah tiang kolom 4 buah dan diletakkan diluar sudut kolom.
Perletakan tiang pada tanah biasanya diletakkan diatas papan atau juga ditanam pada tanah. Apabila tiang langsung berhubungan dengan tanah sebaiknya ditanam sedalam 20 cm untuk menjaga agar konstruksi tidak bergeser. dari ketinggian kedudukan acuan.
Jarak pemasangan tiang penyangga tergantung dari :
1.      beban yang ditopang
2.      ukuran balok
3.      ukuran penampang maupun panjang tiang penyangga itu sendiri
4.      skur/pengaku.

Dalam Acuan dan Perancah II terdapat 2 macam tiang yang digunakan, yaitu:
1)      Tiang tunggal (pipe support/steel proof).
2)      Tiang rangka (scaffolding).

2.      Gelagar
           Gelagar berfungsi sebagai penopang langsung dari acuan yang ada serta dapat berfungsi untuk mengatur elevasi yang diinginkan dari acuan. Gelagar  terbuat dari bahan kayu berukuran balok maupun papan. Penggunaan bahan gelagar dari kayu berukuran balok maupun berukuran papan tergantung dari perencanaan pemakaian bahan, tetapi yang pasti gelagar yang berpenampang 8 x 12 cm akan digunakan untuk menopang beban yang lebih berat jika dibandingkan balok kasau berukuran 4  x 6 cm maupun papan 2 x 20 cm.
Gelagar dipasang pada tiang bagian atas sesuai dengan ketinggian yang dibutuhkan. Pemasangan ini dimulai dari gelagar-gelagar bagian tepi, dan kemudian gelagar bagian tengah. Gelagar bagian tepi dianggap sebagai papan duga terhadap gelagar bagian tengah
Jarak pemasangan gelagar tergantung dari ;        
1.      Ukuran penampang bahan gelagar
2.       Beban yang dipikul
3.       Ketebalan papan acuan.

3.      Skur
Skur merupakan bagian dari acuan perancah yang berfungsi untuk memperkokoh atau memperkaku dari sistem acuan perancah yang ada. Agar didapat suatu sistem acuan perancah yang memenuhi persyaratan kekakuan,  maka skur dipasang pada dua posisi :
a)      Skur horizontal merupakan skur yang mempunyai fungsi untuk mempersatukan tiang penyangga yang ada, sehingga tiang-tiang tersebut akan bekerja bersamaan pada saat mendapatkan gaya
b)      Skur diagonal merupakan skur yang dipasang miring pada arah vertikal, yang mempunyai fungsi utama untuk melawan gaya-gaya horizontal ( goyangan ) yang timbul pada tiang penyangga.
Skur horizontal saja tidak mampu mengatasi gaya. Skur diagonal saja tidak mampu menerima gaya karena tidak ada persatuan antar tiang penyangga dan  yang bisa terjadi tiang akan melendut. Kombinasi antara skur horizontal dan diagonal akan mempunyai kemampuan menopang gaya, karena terjadi kekompakan tiang dan skur.

4.      Landasan
Landasan merupakan untuk tiang penyangga agar tidak bergerak-gerak. Landasan yang digunakan biasanya berupa  balok kayu, baja atau beton.
 Landasan berfungsi  sebagai:
1)      Sebagai bahan (alat) untuk memperluas bidang tekan pada setiap ujung -ujung tiang penyangga
2)      Sebagai bahan atau alat untuk menyangga tergesernya ujung-ujung tiang akibat adanya gaya-gaya horizontal
3)      Sebagai bahan atau alat untuk memudahkan pemasangan tiang -tiang apabila tiang-tiang tersebut harus dipasang pada tempa- tempat bergelombang.

5.      Penyokong
Setelah papan landasan siap, maka tiang-tiang yang sudah dipotong diletakkan diatas papan tersebut dan dipasangkan penyokong agar tiang–tiang tersebut dapat berdiri dengan tegak dan kokoh.

1.7. Metode yang digunakan Dalam Acuan dan Perancah
1.      System  Tradisional
Yaitu suatu metode yang masih menggunakan material lokal, sedangkan konstruksinya konvensional. Penggunaan terbatas hanya sampai pada beberapa kali penggunaan untuk bentuk yang rumit akan banyak memakan waktu dan tenaga.
2.      Semi System
Yaitu suatu metode dimana material dan konstruksinya sudah merupakan campuran antara material lokal dan buatan pabrik akan bisa kita pakai terus-menerus, oleh karena itu penggunaan metode ini hanya untuk pekerjaan yang mengalami beberapa kali pembuatan terus-menerus.
3.      Full System
Yaitu suatu metode dimana semua materialnya merupakan buatan pabrik dan konstruksinya tidak lagi konstruksi konvensional. Materialnya bisa digunakan secara terus-menerus dan penggunaannya sangat mudah dan sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatannya. Untuk menginvestasikannya memerlukan banyak pertimbangan karena harga bekisting ini cukup mahal. Sebelum pekerjaan dimulai kita harus menghitung terlebih dahulu beban-beban yang akan diterima.
Dalam Acuan dan Perancah II, metode yang digunakan adalah metode Semi Systerm.

1.8. Memperkirakan Tekanan yang dikembangkan Oleh Beton
Ada 3 tekanan yang mungkin berbeda dan harus dipertimbangkan dalam pendesainan beton.


PH atau PV atau Pg :
*      PH =24. H kN/m2 [Tekanan Hidrostastik]
*      Pv =(24.E.K+5) kN/m2 [Penyangga Beton] K dari Tabel
*      Pg =(3E +  +15)kN/m2 [Pengaruh silo hanya d<500]

Bila tekanan jatuh Beton lebih dari 2m, pada waktu menghitung ditambahkan dengan point/nilai 10 kN/m2. Apabila berat untuk beton lembek sangat berbeda dari nila 2400 kN/m2 maka suatu koreksi harus dibuat dengan rumus :  
Ø  Keadaan Khusus:
·         Dengan campuran zat penghambat hanya Ph dan Pg dapat dipertimbangkan.
·         Pada Beton dengan campuran zat Plasticizer hanya Ph dapat dipertimbangkan.
·         Pada Beton dengan kemantapan S> 80 mm (Turun) dan getaran luar hanya Ph dan Pv dapat dipertimbangkan.
·         Pada pengecoran Beton dengan pipa, dimana ujungnya berda dibeton, maka tekanan hidrostatik sepanjang pipa keseluruhan harus dipertimbangkan.
·         Pengecoran Beton dengan menggunakan pompa, diaman ujung pipa berada didalam Beton, maka 150% dari tekanan hidrostatik yang ada harus ditambahkan.





Tabel Nilai K
Kemantapan
Suhu Beton Co
Penurunan dalam mm
15oC
20oC
25
30
35
25 mm
K-C,8
0,60
0,45
0,35
0,30
50 mm
1,10
0,80
0,60
0,45
0,40
75 mm
1,35
1,00
0,75
0,55
0,50
100 mm
1,60
1,15
0,90
0,65
0,60

1.9. Bahan dan Alat
1.9.1. Bahan - bahan
Bahan-bahan yang digunakan berupa :
1)      Kayu
Kayu yang biasa dipakai untuk acuan dan perancah adalah kayu kelas III dan kelas IV.
Misalnya :
·         Kayu Terentang; kelas kuat III-IV dan kelas awet V; ukuran ketebalan 2-3 cm, lebar 13,5 cm dan panjang 400 cm.
·         Kayu Kamper; kelas kuat I – II dan kelas awet III; ukuran yang sering dipakai  3/20,  6/12, 5/7
·         Kayu Meranti; kelas kuat II – III dan kelas awet II – IV; ukuran yang  sering dipakai yaitu 3/20, 6/12, 5/7
·         Kayu Albasia; kelas kuat IV; ukuran yang sering dipakai 2/20 , 4/10
·         Kayu Kruing ; kelas kuat I – II dan kelas awet III; ukuran yang sering dipakai 3/20/400 cm; 6/12/400 cm; 5/7/400 cm.



2)      Plywood / multiplex
Multiplex digunakan sebagai bahan papan acuan dan dipakai untuk pekerjaan yang cukup besar serta untuk permukaan beton yang tidak diplester lagi atau tidak memerlukan finishing. Dalam penggunaan bahan ini diusahakan agar tidak banyak pemakuan supaya bahan ini mudah dibongkar dan tidak cepat rusak.
Untuk ukuran multiplex yang sering digunakan adalah dengan ketebalan 2 cm; lebar 122 cm dan panjang 244 cm.

3)      Paku 
Paku memiliki fungsi sebagai penguat dan alat penyambung. Bentuk penampang paku yang digunakan dalam acuan dan perancah ialah yang berpenampang bulat, hal ini untuk mempermudah di dalam pembongkarannya. Dan panjang paku yang digunakan tergantung dari tebal sambungan yang dibuat atau maksimal sepanjang tebal sambungan. Paku tidak boleh melebihi tebal sambungan karena ujung paku yang dibengkokkan akan menyukarkan pekerjaan pembongkaran. Ukuran paku yang biasa digunakan adalah 1”, 1,5”, 2” dan  2,5”
          Jarak minimum pemakuan harus memenuhi syarat – syarat sebagai berikut :
ü  Dalam arah gaya
1.         12 . d untuk tepi kayu yang dibebani
2.         5 . d untuk tepi kayu yang tidak dibebani\
3.         10 . d untuk jarak antara paku

ü  Dalam arah tegak lurus arah gaya
1.         5 . d untuk jarak sampai tepi kayu
2.         5 . d untuk barisan paku
4)      Kawat      
            Kawat digunakan untuk mengikat sambungan antar skur dengan tiang penyangga, tiang penyangga dengan balok induk dan steel proof dengan balok lantai.

5)      Benang
            Benang berfungsi sebagai patokan garis As dan juga sebagai benang unting-unting.

6)      Paralon
            Paralon digunakan sebagai perekat  Rapid Clamp dan juga agar ukuran tebal dinding pas dengan yg direncanakan.

7)      Pipa besi sebagai skur
                                 Sebagai skur diagonal penahan kolom.

1.9.2. Alat-alat
 Alat-alat  yang digunakan dalam Acuan dan Perancah II :
1.      Meteran  Baja (kecil)
Meteran terbuat dari plat baja tipis sekali dan digulung dalam suatu kotak sebagai pelindungnya. Tercantum ukuran dalam mm, cm, dan inchi. Gunanya untuk mengukur pekerjaan untuk tebal, lebar, panjang, dan tinggi.
·         Panjang  : 2-5 m
·   Lebar      : 1-2 cm    
·   Tebal plat : 0.2 mm 



2.      Unting-unting
Alat ini terbuat dari kuningan, besi atau timah dengan berat 100 gr s/d 500 gr. Ditengahnya dipasang benang. Gunanya untuk mengukur ketegakkan.
  • Panjang   : 12 ½ cm
  • Barat       : 100 gr




3.      Waterpass
Kerangka  terbuat  dari  alumunium  dan  dilengkapi  dengan  tabung  yang berisi cairan ether  yang  ada  gelembung  udaranya. Digunakan untuk mengukur kedataran dan ketegakkan pasangan.
·         Lebar               : 5 cm
·         Panjang           : 60-120 cm
·         Tebal               : 3 cm
·         Tabung gas      : ½ cm

4.      Gergaji Mesin
Digunakan untuk memotong dan membelah kayu sama seperti Gergaji manual, namun gergaji ini menggunakan daya listrik sehingga kerjanya lebih cepat, rapi, dan mudah digunakan.




5.      Roll Kabel           
Digunakan menyambungkan listrik dengan alat kerja yang menggunakan listrik seperti ketam listrik, gergaji listrik, bor listrik dan macam-macam alat kerja bantu yang menggunakan listrik yang berada jauh dari sumber listri.




6.      Palu Cakar
Umumnya digunakan untuk memukul benda-benda dari besi/baja seperti paku dan digunakan juga untuk mencabut paku.







7.      Gergaji Tangan
Digunakan untuk memotong dan membelah kayu dengan cara manual. Gergaji terbuat dari sebilah baja tipis yang tipis satunya dibuat bergigi tajam dan diberi tangkai pegangan dari kayu.





8.      Mistar Siku
Mistar yang daun dan badannya terbuat dari baja. Sudut yang berbentuk dari keduanya adalah 90º. Berfungsi membuat garis-garis penyiku sekeliling kayu, mengecek kesikuan kayu, dan memberi garis melintang serat.





9.      Rapid Klam
Berfungsi sebagai pengunci atau pengikat dari cetakan yang kita buat. Terbuat dari kuningan atau baja.







10.  Kunci Rapid Clamp

Sebagai alat yang mempermudah mengunci atau mengikat rapid clamp.



11.  Plat Clamp
Berfungsi sebagai pengunci atau pengikat dari cetakan yang kita buat. Terbuat dari baja.




12.  Baji
Berfungsi sebagai pengunci rapid clamp baja yang berbentuk lempengan baja yang dimana di tengah rapid clamp baja tersebut terdapat lubang untuk baji sebagai pengikat atau pengunci cetakan yang kita buat.



13.  Kakatua
Kakatua digunakan sebagai pemotong kawat dan pengencang kawat

14.  linggis.
Linggis digunakan untuk membuka sambungan paku dan kayu       

15.  lempengan baja
Sebagai pengeratdari pada rapid clamp

16.  Tangga
            Berfungsi sebagai alat bantu naik jika tempatnya tinggi

17.  Kapur/Pensil
                

      Kapur/Pensil digunakan sebagai penanda, ataupun sebagai untuk membuat gambaran antride optride tangga.

18.  Kunci
Kunci Berfungsi sebagai pengencang dan pengendur  mur.

19.  Mur
Mur digunakan sebagai pengencang rapid clamp.

20.   Kaca Mata
Kaca mata digunakan sebagai pelindung mata agar mata tidak terkena debu ataupun potongan kayu pada saat memotong kayu dengan gergaji mesin.

21.  Helm
Helm digunakan sebagai pelindung kepala agar benda yang jatuh tidak langsung terbentur kepala pada saat melakukan pembongkaran.
22.  Baja tulangan
                              Sebagai sambungan rapid clamp

23.  Earphone
Earphone digunakan sebagai penutup telinga agar tidak terdengar suara bising pada memotong kayu dengan gergaji mesin.

24.  Roll Meter Besar
Fungsinya sama dengan meteran baja, namun meteran ini bisa digunakan dengan jarak yang lebih panjang.

25.   Selang
Selang digunakan sebagai penyama elevasi.

26.  Steel Proof
Steel Proof memiliki fungsi yang sama dengan dolken pada Acuan dan Perancah I, akan tetapi steel proof biasanya digunakan pada gedung yang tinggi.Steel Proof memiliki tinggi yang dapat diatur.
Ø  Kelebihan Steel Proof dibandingkan dolken ,antara lain:
1.         Steel Proof lebih simple dari dolken.
2.         Steel Proof memiliki bentuk yang sama sehingga mempermudah dalam penegakannya dan pengaturan kedatarannya.
3.         Ketinggian Steel proof dapat diatur sesuai dengan yang dinginkan sedangkan Dolken jika tingginya kurang harus disambung.


27.  Scaffolding


 












                                                         Tampak Samping







 






                                                                   









 



Tampak Depan
Scaffolding merupakan alat perancah yang terbuat dari baja. Alat Perancah ini digunakan untuk konstruksi besar dan dapat digunakan terus sampai alat perancah ini rusak. Alat Perancah ini dapat disambung–sambung sesuai dengan kegunaannya. Alat Perancah ini selain sebagai alat perancah juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai tempat orang bekerja yang dialasnya dapat dipasang roda.
Scaffolding ada 2 macam sesuai dengan tinggi standarnya:
1.      Scaffolding Besar
Scaffolding ini merupakan alat perancah yang memiliki tinggi standard 6170 cm.

2.      Scaffolding kecil
Scaffolding ini merupakan tambahan scaffolding yang memiliki tinggi 690 cm.

28.  Pipa Penyambung Scaffolding
Pipa Penyambung ini digunakan jika kita ingin menyambung dengan scaffolding yang lainnya.

29.  Extra Folding
Extra Folding adalah suatu alat tambah dalam Scaffolding yang berfungsi sebagai alas dan tempat balok sesuai dengan bentuknya.
Ø  Extra  Folding sebagai Alas


Ø  Extra  Folding sebagai Penyangga Balok
BAB II
 URAIAN DASAR TEORI


Dalam Acuan dan Perancah II ini, praktek pembelajaran yang akan dibahas mengenai:
1.      Acuan Kolom Empat Persegi Panjang dengan menggunakan Rapid Clamp dan Plat Clamp
2.      Acuan Balok dengan Steel Proof
3.      Acuan Lantai dengan Scaffolding
4.      Acuan Dinding
5.      Acuan Tangga ¼ lingkaran 
6.      Pembongkaran

2.1. Acuan Kolom (Empat Persegi Panjang)
a)      Fungsi dan Bentuk Kolom
Fungsi dari kolom adalah untuk meneruskan beban yang berada di atasnya dan meneruskannya ke pondasi.
Bentuk penampangan kolom:
1.      Bujur sangkar
2.      Empat persegi panjang
3.      Lingkaran
4.      Segi banyak
5.      Dll
 Konstruksi dari pada acuan ini bermacam bentuk dan ukurannya, disesuaikan dengan beban yang berada di atasnya dan dari segi estetika.
b)      Syarat-syarat Acuan Kolom, yaitu:
1.       Syarat Umum
2.       Tegak
3.       Posisi tepat/As
c)       Bagian–bagian dari Acuan Kolom
1.      Papan Acuan
Papan acuan dapat terbuat dari multiplek atau papan acuan. Apabila menggunakan papan, maka sebaiknya penyambungan dapat dilakukan dalam arah melebar atau memanjang sesuai dengan lebar kolom yang kita kehendaki. Jika menggunakan plywood, maka penyambungan dengan arah melebar tidak diperlukan.

2.      Klem-klem Perangkai
Penyambungan papan dengan arah melebar dapat dilakukan dengan menggunakan klem dari sisa-sisa potongan kayu yang masih cukup panjangnya dengan lebar papan yang akan disambung. Sedangkan jarak klem-klem perangkai tergantung dari besarnya penampang kolom yang akan dibuat.

3.      Papan Penjepit Dinding
Papan ini dipasang sesuai dengan jarak klem yang dibuat. Papan terpasang satu dengan yang lainnya pada tiang yang telah dipasang. Fungsi papan penjepit adalah agar papan cetakan tidak pecah ketika beton di cor dan dipasang dengan jarak 40 – 65 cm.

4.      Penyetelan Acuan Kolom
Apabila semua sudah siap, maka semua bahan acuan disiapkan di tempat yang akan dipasang cetakan. Pertama-tama dinding yang telah dirangkai satu sama lain dipakukan pada ketiga sisinya dan apabila terjadi menggunakan tulangan, maka tulangan dipasang dan kerangka acuan dirangkai. Agar kolom tegak dan kokoh, digunakan Rapid Clamp atau Plat Clamp. Namun sebelumnya cek dulu menggunakn unting-unting agar benar-benar pada posisi tegak dan tepat As.

2.2. Acuan Balok
Balok adalah salah satu elemen konstruksi bangunan yang berfungsi untuk menyalurkan beban lantai atau tembok ke kolom.
a)      Syarat-syarat Acuan Balok:
1.      Syarat umum
2.      Ketepatan posisi/as
3.      Elevasi
4.      Kedataran

b)      Bagian-bagian dari acuan balok :
1.      Tiang penyangga
2.      Dudukan tiang
3.      Skur tiang perancah
4.      Penyetelan tiang acuan
5.      Klan Perangkai
6.      Gelagar
7.      Landasan

1)      Tiang Penyangga
Pada tiang penyangga atau perancah digunakan kayu dolken. Untuk pemasangan tiang ini ada dua jenis yaitu satu tiang perancah dan diletakkan di tengah-tengah, namun apabila dua buah tiang penyangga maka penempatannya pada bagian-bagian tepi cetakan.
Jarak antara tiang-tiang tersebut sekitar 40-60 cm.



2)      Dudukan Tiang
Dudukan tiang dapat diletakkan di dua tempat yaitu di tanah dan di lantai.
·         di tanah
Dudukan perancah di tanah harus diberi landasan papan agar didapat tekanan yang kecil. Sehingga kemungkinan tiang turun akan diperkecil. Apabila tanahnya lembek bisa kita atasi dengan memperluas landasan, sedangkan untuk menggeserkan tiang kita perlu baji.
·         di lantai
Meletakkan tiang pada lantai hampir sama dengan pada tanah, tetapi apabila tiangnya terletak pada lantai dua maka perancah pada tiang sebelumnya juga dibongkar dahulu sebab beban yang diterima di lantai dua kali melebihi kemampuannya.
3)      Skur Tiang Perancah
Agar tiang-tiang dapat berdiri tegak dan kaku diperlukan adanya pengaku kontrol atau diagonal yang dipasang dalam arah sumbu X dan sumbu Y. Pada sumbu X antara tiang dengan tiang dipasang pengaku diagonal yang dipasang saling bersilangan sedangkan pada sumbu Y dipasang dari tiang ke tiang ke dalam tanah yang telah diberi pasak. Hal ini diperlukan terutama pada konstruksi acuan dengan tiang tunggal
4)      Penyetelan Acuan Dan Perancah
1.         Pengukuran sesuai dengan rencana
2.         Pemasangan perancah tiang, dudukan skoor
3.         Pemasangan gelagar
4.         Pemasangan lantai yang dipakukan pada gelagar
5.         Pemasangan dinding cetakan dan memasang klem penjepit disamping bawah dan dipasang pengaku setelah ukurannya benar.
5)      Landasan
 Landasan dibuat sebagai pijakan tiang, agar tiang tidak masuk ke dalam tanah.

c)      Macam-macam Balok

1.     Sloof
Sloof merupakan balok yang berada di bawah permukaan lantai atau tanah yang berfungsi menopang beban terutama dinding yang selanjutnya diteruskan ke pondasi. Balok ini menghubungkan antara pangkal bawah kolom yang satu dengan yang lainnya agar bangunan lebih kokoh maupun untuk menjaga agar tidak terjadi pergeseran pondasi ke arah mendatar.
Selain balok ini ada balok lain lagi yang disebut balok pengikat. Balok ini berada melintang di bawah lantai pada bangunan yang mempunyai ruangan memanjang (misalnya aula) tanpa dipisahkan oleh dinding. Balok ini berfungsi untuk mengikat antara kedua jalur dinding dan pondasi untuk mencegah pergeseran horizontal.

2.     Balok Induk dan Balok Anak
Jenis balok ini merupakan balok yang menopang langsung lantai -lantai bangunan, berarti merupakan kombinasi antara balok dengan lantai. Dengan adanya balok tersebut, ukuran lantai dapat diperkecil (lebih tipis) jika dibandingkan dengan lantai yang direncanakan tanpa memakai balok. Balok induk merupakan penopang utama dari balok anak dan sebagian lantai beban lantai yang selanjutnya diteruskan ke kolom sebagian pendukungnya. Selain fungsi - fungsi di atas, maka balok ini berfungsi mengikat antara kolom yang satu dengan yang lainnya agar bangunan dapat lebih kokoh.
3.     Balok ring
Balok ring atau ring balok berada di ujung atas dinding pada suatu bangunan gedung berfungsi mengikat antara kolom yang satu dengan yang lainnya dan mendukung beban di atasnya berupa sebagian beban atap,  kemudian diteruskan ke kolom.

4.     Balok lantai
Jenis belok ini membentang di atas kusen pintu dan jendela. Pada bangunan yang struktur utamanya dari beton bertulang,  maka balok lantai ini berada di atas pintu dan jendela di sepanjang dinding.
Jadi fungsi utamanya adalah menopang dan meneruskan beban dari dinding ke kolom pendukungnya agar tidak membebani kusen di bawahnya. Pada prisnsipnya, kusen tidak boleh dibebani dari atas karena dapat mengakibatkan terjadinya lendutan pada kusen tersebut dan akhirnya daun pintu dan jendela tidak dapat berfungsi dengan baik.

5.     Balok  Kantilever
Balok kantilever merupakan balok yang salah satu ujungnya bebas. Balok ini tidak ada batasan letaknya, misalnya menopang atap teras, menopang lantai dan sebagainya.

2.3. Acuan Lantai
Yang perlu diperhatikan ketinggian dari lantai itu sendiri disamping cetakan  konstruksi yang harus kuat dan kokoh.
a)      Syarat-syarat Acuan Lantai, yaitu:
1.      Syarat umum
2.      kedataran
3.      Elevasi

b)      Bagian-bagian yang penting dari plat lantai :
1.   Tiang acuan dan pengaku
Tiang acuan dipasang di atas papan landasan yang berada di atas tanah. Pemasangan tiang ini bersamaan dengan sebagian papan pengaku yang berfungsi sebagai perangkai-perangkai tiang itu sendiri dan sisanya dipasang setelah gelagar.
2.    Gelagar
Gelagar-gelagar yang dipasang pada tiang bagian atas sesuai dengan ketinggian yang dibutuhkan. Pemasangan dimulai dengan gelagar-gelagar bagian tepi dan kemudian bagian tengah. Bagian atas gelagar ini kita hubungkan dengan dua atau tiga benang yang fungsinya untuk pedoman ketinggian dari gelagar-gelagar bagian tengah. Jika papam gelagar sudah dipasang, maka papan pengaku dipasang semuanya.
3.     Lantai cetakan
Lantai cetakan dipasang di atas tiang gelagar. Apabila pada pekerjaan ini menggunakan papan, maka sisi papan harus diketam terlebih dahulu. Untuk pekerjaan beton yang tidak memerlukan finishing biasanya lantai cetakan memakai plywood lebih licin dari pada permukaan papan.

2.4.Acuan Dinding
Pembuatan acuan dinding merupakan acuan yang banyak menggunakan bahan dasar plywood. 
Ø  Macam-macam acuan dinding:
1.      Acuan dinding dengan klam pengaku
2.      Acuan dinding dengan kawat pengikat
3.      Acuan dinding dengan batang pengikat
  Acuan Dinding dengan Rapid clamp memiliki cara teknik pekerjaanya sama dengan Kolom dengan Rapid. Clamp. Dinding dengan Rapid clamp itu harus kuat dan kaku serta siku dalam pembuatan cetakannya ,agar menghasilkan dinding sesuai dengan harapan kita dan bermutu yang baik. Acuan  Dinding dengan menggunakan Rapid clamp relative rumit dan perlu ketelitian dan kehati-hatian, karena dalam pembuatan cetakan dinding dengan Rapid clamp cetakan itu harus siku dan memiliki jarak sama tiap dinding serta datar dan tegak.
2.5. Cetakan Tangga
Pada setiap pembuatan bangunan bertingkat, maka pekerjaan tangga juga diperlukan. Fungsi dari tangga ialah untuk menghubungkan lalu lintas dari satu lantai ke lantai lain. Tangga bisa dibuat dari konstruksi kayu, baja, alumunium, beton dan lain - lain.

a)      Bentuk-bentuk Tangga:
1.      Tanggga Spiral
2.      Tangga Lurus
3.      Tangga dengan Burdes
4.      Tangga Poros
5.      Tangga ¼ lingkaran
6.      Tangga ½ lingkaran
7.      dll

b)      Hal–hal yang perlu diperhatikan :
1.      Perencanaan tangga
2.      Bentuk optride dan cetakannya
3.      Pembuatan cetakan tangga



c)      Syarat-syarat Acuan Tangga:
·         Lebar tangga
Ø  Rumah tinggal  ≥ 90cm
Ø  Umum  ≥ 120cm
·         Optride
Ø  Rumah tinggal  ≥ 20cm
Ø   Umum  ≥ 17cm
·         Antride  ≥ 25cm
·          Kemiringan maximum 45° atau dengan menggunakan perbandingan
    

Syarat Tangga  Ideal = 2 x Optride + 1 Antride = 1 Langkah (57cm-65cm)

d)     Macam–macam acuan dan perancah untuk tangga:
1.      Cetakan tangga lurus
2.      Cetakan tangga membelok
3.      Cetakan tangga melingkar

e)      Tahap-tahap pembuatan cetakan tangga, meliputi:
1)      Pemasangan tiang – tiang
Sebelum pemasangan, tiang yang akan dikerjakan harus diukur dahulu tinggi tiang yang dibutuhkan, dengan jalan menarik benang dari lantai di bawahnya sepanjang bentang tangga yang direncanakan. Kemudian ditentukan letak tiang – tiangnya. Pada tempat – tempat itu diukur tingginya dan ukuran – ukurannya ini adalah ukuran tinggi tiang yang dibutuhkan lalu dipasang pada masing - masing tempat tadi. Tinggi tiang jangan diukur tepat dengan ukuran tadi tapi dikurangi sedikit, dengan maksud agar lebih mudah di dalam penimbangan gelagar. Pemasangan tiang – tiang ini tidak berbeda dengan pemasangan tiang pada balok dan lantai, baik dudukannya ataupun penyekorannya
2)      Penimbangan gelagar
Setelah pemasangan tiang – tiang selesai lalu dilanjutkan dengan penimbangan dan pemasangan gelagar. Penimbangan gelagar hampir sama dengan penimbangan gelagar untuk cetakan lantai, hanya benang pedoman tidak horizontal, tetapi sesuai dengan kemiringan tangga.
3)      Pemasangan papan lantai
Pemasangan papan lantai tidak banyak berbeda dengan pemasangan papan lantai acuan pada cetakan lantai. Kita tinggal memasang di atas gelagar–gelagar yang sudah terpasang di bawahnya dan memakukannya pada gelagar tadi.
4)      Pemasangan dinding cetakan beserta penggambaran tride – tridenya
Bagian tepi lantai yang sudah terpasang tadi harus lurus sesuai dengan lebar tangga. Baru setelah itu, dinding cetakan dipasang pada tepi lantai cetakan, berdiri vertikal kemudian disokong pada bagian atasnya dengan tiang bagian luar di samping dinding tadi, sedang bagian bawah ditahan oleh papan penguat yang dipakukan pada gelagar. Penggambaran tride–tridenya dengan menggunakan waterpass, siku, dan meteran.
5)      Pemasangan papan pencetak optride
Setelah semua tride tergambar pemasangan papan – papan pencetak, optride tidak bisa langsung dipasang tapi harus terlebih dahulu dilakukan pemasangan penulangan. Setelah pemasangan penulangan selesai, papan – papan optride dipasang dengan diperkuat oleh klos yang dipakukan pada dinding cetakan. Pada bagian tengah papan ini diberi sokong dipakukan dengan sebilah kayu yang kita pasang miring dari atas ke bawah.          

2.6. Pembongkaran Acuan Perancah
Pembongkaran acuan dan perancah jika di cor dilakukan apabila beton sudah mencapai umur ± 28 hari. Pada konstruksi tertentu kita bisa membongkarnya lebih awal, misalnya pada pekerjaan pondasi, pekerjaan kolom, dll; biasanya pada konstruksi yang tidak menggantung. Pembongkaran terpaksa dilakukan karena waktu yang diperlukan oleh pekerjaan lain yang tergantung dari pekerjaan beton tersebut untuk konstruksi yang menggantung jangan sekali – kali dilakukan pembongkaran acuan / perancah sebelum beton cukup umur, misalnya pada balok, lantai, konsol, luifel, dll. Apabila hal ini dilakukan, maka akan berakibat buruk, misalnya retak pada beton, atau lepasnya ikatan beton dengan tulangan.

v  Syarat-syarat  Pembongkaran Acuan dan Perancah
1.      Syarat Ekonomis
Pada saat acuan dibongkar usahakan bekas bahan bongkaran supaya bisa dipergunakan kembali agar dapat mnghemat biaya seminimal mungkin. Hal ini dapat dilakukan apabila dalam pembongkaran dilakukan secara hati – hati.

2.      Syarat Keamanan
Selain syarat ekonomis harus juga diperhatikan syarat–syarat keamanan. Hal ini penting sekali, jangan sampai di dalam pembongkaran urutan pembongkaran tidak diperhatikan sehingga bagian yang belum terbongkar ataupun yang sudah terbongkar dapat mencelakakan pekerja yang sedang bekerja. Misalnya di dalam pembongkaran acuan dan perancah lantai. Pertama dibongkar dahulu skur–skurnya kemudian tiang-tiangnya. Dalam pembongkaran tiang, harus hati–hati karena tiang ini yang menyangga seluruh beban di atasnya. Kalau tidak hati–hati maka apa–apa yang ada di atasnya bisa rubuh dan menimpa pekerja yang sedang berada di bawahnya. Gunakan pakaian keamanan ( sepatu safety, helm, tali, sarung tangan, dan kaca mata ).

3.      Syarat Konstruktif
Pembongkaran tiang secara teoritis perlu diperhatikan bidang momen yang timbul harus sama dengan bidang momen yang direncanakan. Jadi pada pembongkaran tiang perancah lantai harus dimulai dari tengah dulu kemudian ke arah tepi. Hal ini dimaksudkan agar bidang momen yang timbul akan sama dengan bidang momen yang direncanakan. Sedang pada pembongkaran konsol ( balok kantilever ), dimulai dari ujung. Dengan maksud untuk mendapatkan bidang momen yang sama.
             Syarat konstruktif untuk pembongkaran acuan dan perancah dibagi menjadi dua, yaitu :
a)      Berdasarkan Waktu
                   Berdasarkan waktu pembongkaran dibagi menjadi dua, yaitu :
1.      Untuk cetakan samping atau yang tidak menahan momen, acuan ini boleh dibongkar setelah bentuk beton stabil (cetakan dinding balaok, cetakan dinding) ± > 24 jam.
2.      Untuk penyangga datar yang menahan momen : boleh dibongkar setelah beton mencapai kekuatan penuh, dibuktikan dengan hasil uji kubus di laboratorium, untuk beton konvensional  ±  28 hari (beton tanpa bahan tambahan).
b)      Berdasarkan Metode
Urutan-urutan pembongkaran acuan dan perancah harus sesuai dengan momen yang telah direncanakan.

Metode-metode yang digunakan dalam pembongkaran acuan dan perancah adalah :
1)      Urutan-urutan pembongkaran acuan dan perancah harus sesuai dengan momen yang telah direncanakan, sehingga momen yang terjadi akibat pembongkaran sama dengan momen yang telah direncanakan.
2)      Pembongkaran acuan dan perancahnya dimulai dari ujung untuk mendapatkan bidang momen yang sama.
3)      Pembongkaran tiang perancahnya harus dimulai dari tengah dan diteruskan di kiri kanannya sampai ke tepi.

Kesimpulannya adalah ketika melakukan pembongkaran, tidak merusak konstruksi yang telah jadi.

2.7. Tujuan dan Manfaat Praktek Kerja Acuan dan Perancah
       2.7.1. Adapun Tujuan dari Praktek Kerja Acuan dan Perancah ini adalah :
1)      Mengetahui teknik pengerjaan acuan perancah yang baik dan benar
2)      Mengetahui fungsi/kegunaan dari alat-alat dalam proses pengerjaan konstruksi acuan perancah
3)      Mengetahui bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan dalam pengerjaan konstruksi acuan perancah dan akanestimasi bahan dan waktu
4)      Mampu membedakan kualitas bahan berdasarkan kelasnya
5)      Memberikan pengetahuan tentang perencanaan kerja acuan perancah sehingga mampu untuk merencanakan serta melaksanakan suatu pekerjaan yang menyangkut acuan perancah / beton
6)      Dapat memperhitungkan komponen serta kebutuhan bahan yang akan dipergunakan dalam kerja acuan perancah.

2.7.2. Adapun Manfaat dari Praktek Kerja Acuan dan Perancah adalah :
1)      Dapat memperkaya diri guna bekal di kemudian hari mengenai konstruksi acuan perancah
2)      Dapat mengetahui teknik pengerjaan acuan perancah yang baik dan benar
3)      Mahasiswa dapat memperhitungkan waktu yang dibutuhkan dalam penyelesaian konstruksi acuan perancah
4)      Mahasiswa dapat menyadari akan keberadaan potensi dirinya serta kondisi lingkungan yang menunjang untuk dapat dikembangkan dan berupaya menjadikan diri sebagai sumber daya manusia yang berkualitas.















BAB III
Up Ribbon: JOB   :  I

JUDUL    :  MEMBUAT ACUAN KOLOM BERBENTUK EMPAT PERSEGI PANJANG DENGAN MENGGUNAK AN RAPID CLAMP URAIAN JOB






1.   PENGERTIAN
Kolom adalah tiang yang menahan suatu konstruksi bangunan.Kolom merupakan bagian terpenting dalam suatu konstruksi,sehingga kita harus teliti dalam merencanakan suatu kolom yang baik,tegak lurus dan kuat serta memiliki mutu yang baik.
Ø  Rapid Clamp adalah :
Suatu alat yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menjepit atau membuat kaku suatu cetakan dengan menjepit baja tulangan sebagai penjepitnya.

Kolom yang dibuat  dengan pengakuan Rapid Clamp sangat kuat , akan tetapi Cetakan Kolom yang menggunakan Rapid Clamp relatif susah dalam pemasangannya dan berbahaya, karenanya kita harus dapat memahami cara atau teknik pemasangan Kolom dengan Rapid Clamp.






2.     TUJUAN PRAKTEK :
Pada akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat :
1.         Membuat cetakan kolom dengan baik dan benar serta rapi dengan  menggunakan rapid klem.
2.         Dapat menyetel cetakan kolom menjadi vertical dan sesuai posisi
3.         Meluruskan kedudukan cetakan kolom yang satu dengan cetakan kolom yang lainnya
4.         Dapat menghitung jumlah kebutuhan bahan yang diperlukan
5.         Dapat mempergunakan alat sesuai fungsinya.

3.     PERALATAN YANG DIGUNAKAN :
1.      Kapur/Pensil                                               12. Kunci
2.      Pralon                                                        13. Tangga
3.      Mistar siku
4.      Roll meter  besar dan kecil
5.      Gergaji mesin dan manual
6.      Roll Kabel
7.      Palu cakar
8.      waterpass
9.      unting-unting
10.  rapid clamp lengkap dengan (Lempengan baja, mur, baja tulangan)
11.  pengunci rapid clamp

0 komentar:

Poskan Komentar

Baca Yang Lainnya dan Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Anda